Tips Menempuh Ujian

Nah, yang mendekati ujian atau malah yang lagi ujian. Kudu baca dulu nih.. :)
Eeemm yang udah kelewat juga ga papa, buat bekal menghadapi ujian-ujian berikutnya.

Yang saya maksud disini adalah ujian sekolah yah, semesteran, atau ulang.

Setelah banyak baca-baca referensi buku dan artikel, saya menemukan cara untuk menghadapi ujian dalam TIGA kiat. Mungkin ada bahkan banyak di antara kita yang sudah menemukan caranya masing-masing dalam membekali diri untuk ujian. Tapi disini saya ingin membagi tips/kiat saya dalam menghadapi ujian semester.

Langsung saja yah.... :)

Kiat yang pertama adalaaahhh..

#Reward

Iya, Berikan reward alias hadiah buat diri kita sendiri. Ketahuilah otak bawah sadar kita menyukai yang namanya hadiah, apalagi yang memberikan itu majikannya sendiri alias diri kita sendiri. Otak bawah sadar kita pasti mencari ribuan cara buat mendapatkannya.

Dari pengalaman saya, membuktikan cara ini sangat manjur bin mujarab.
Ceritanya, waktu semester pertama masuk kuliah. Yah yang namanya dari pelosok negeri pastinya ingin membuktikan yang terbaik donk. Jadilah saya berusaha sekuat tenaga (jiiiaaahhhh..alay)supaya lulus di semua mata kuliah yang saya ambil. Dan yang terpenting saya, berjanji pada diri saya sendiri akan memberikan reward pada diri saya jika di semester pertama ini saya lulus di semua mata kuliah. Waktu itu saya Janji pada diri saya akan memberikan uang 100 ribu rupiah. Dan Alhamdulillah setelah nilai semua keluar dengan rasa was-was (karena udah mudik duluan) saya lulus di semua mata kuliah, dengan nilai yang cukup (Cukup pas-pasan maksudnya..hehe).

Dan pada semester dua, tiga, dan selanjutnya juga begitu selalu memberikan reward pada diri sendiri. Dan alhamdulillah selama kuliah selalu mengantongi nilai A dan B saja (Semoga menginspirasi..#eeeaaa). ^__^

Kemudian Tips/kiat yang kedua adalaaaahhh...

Man Jadda Wa Jada

Yups, Man jadda wa jada..

Man jadda wa jada apa sih?

Saya yakin sebagian besar kita bahkan semua dari kita sudah mengetahuinya. Betul sekali, 100 buat anda.. ^__^
Kita Harus berusaha sekuat tenaga. "Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia Pasti sukses"
Begitu kira-kira.
Dan yang saya lakukan juga begitu. Setelah Fix dengan reward yang akan kita terima setelah berhasil mencapainya. Maka sekarang giliran berusaha maksimal buat mewujudkannya.

Jangan harap durian akan hadir dengan sendirinya juka kita hanya diam di atas kasur.

Kita harus ciptakan kesuksesan kita sendiri, jangan lihat keberhasilan orang lain. Tapi fokuslah pada usaaha kita sendiri. Dengan tetap membantu orang lain yang membutuhkan.

Nah loh?

Jangan salah dulu, Fokus pada usaha sendiri buakn berarti mengabaikan semua orang yang minta bantuan. Dan membantu orang lain juga bukan berarti membantu memberikan contekan.

Usaha. Artinya belajar yang giat sebelum ujian di mulai. Biasanya sebelum ujian di mulai ada rentang waktu seminggu untuk persiapan atau minggu tenang. nah manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya. Belajar sesuai jadwal ujian kita.
Misal, hari senin ujiannya Matematika sama Fisika. maka mulai senin waktu minggu tenang belajar MTK dan FIsika. Kalau ada yang kurang mengerti cari bantuan, tanya Om google, ga neu, tanya teman, ga nemu juga tanya Dosen (Ga usah takut tanya sama dosen, dosennya suka kok kalau mahasiswanya aktif), nah masih ga nemu juga, dosennya di pertanyakan..hehehe *serius amat*
Teruuuusss..
Pas hari-hari uasnya kita tinggal review ajah apa yang kita pelajari waktu minggu tenang.

Itu yang namanya Man Jadda wa jada.

Dan kiat yang ketiga adalaaaaahhh...

JUJUR

Iya, jujur. Jujur pada diri sendiri.
Pantang Nyontek, pantang nyontekin. Karena keduanya sama jeleknya.
Nyontek banyak ruginya, percayalah. Dengan mencontek Bisa jadi nilai kita bagus, bisa jadi IP kita tinggi. Tapi hal itu dapat mengurangi tinggkat kepercayaan diri kita sendiri. Otak bawah sadar kita akan merekam bahwa kita itu tidak mampu tanpa bantuan orang lain, jadilah KETERGANTUNGAN. Begitu juga dengan Nyontekin. Hal ini juga sedikit untungnya, bahkan ga ada. Karena nyontekin, menghilangkan berkah yang sudah kita cari payah-payah.

Ingat bahwa saya dan dia sang juara diberikan waktu yang sama dalam seharinya. Betul, 24 jam. Lalu kenapa dia bisa dan aku tidak bisa? | INTROPEKSI |

Tapi dia kan emang lebih pintar dari pada aku! | Klise, ingat lagi "MAn Jadda Wa Jada" tidak ada yang tidak bisa kita capai, termasuk lulus dalam ujian.

Do'a tentunya. Tidak saya masukkan dalam tips, karena do'a ini sifatnya wajib. Maka kapan pun, untuk apapun, kita harus kudu musti do'a sama Allah supaya diberi kemudahan.

Semangat sobat.. Semoga tips sederhana ini bermanfaat.

Nah ini saya berikan bukti otentik reward yang saya terima..hehehe



Ini reward waktu semester dua kemarin, kecil sih. HAnya sebuah Headphone seharga 65rb, tapi saya sangat menikmatinya loh. JAdilah saya bersemangat banget belajarnya..hehe




Nah semester tiga lumayan naik tingkat dapet modem. Alhamdulillah,.. ^__^




Semester empatnya naik tingkat lagi, reward nya Hardisk 500 GB. Hehehe


Oh iya hampir lupa, reward nya usahakan sesuai sama yang lagi kita butuhkan dan atau yang sangat kita inginkan saat itu yah, supaya lebih NENDYAANG.. :)

Jika ingin hasilnya lebih NIKMAT, beli reward nya pakai uang sendiri jangan minta sama orang tua apalagi minta sama pacar yang bukan siapa-siapa *Upsss. Jadi lebih berasa gitu..*Emang makanan berasa* hehehe,, berasa di hati maksudnyaa.. ^__^


Oke, sekian dulu sharing kali ini, semoga bermanfaat yaaa.. :)

Ketika Sofia Beranjak Dewasa

Cahaya kuning bersepuh kemerahan mulai tampak di ufuk timur. Embun pagi menetes lembut dari daun rerumputan. Terlihat seperti mutiara yang bersinar indah memantulkan cahaya sang mentari pagi itu. Angin lembut menyapu wajahnya yang putih bersih bercahaya. Ia pejamkan mata sembari menghirup udara sejuk di pagi nan indah memesona.

Dia sapa ibu-ibu, bapak-bapak, juga anak-anak yang juga sedang menikmati keindahan pagi itu. Senyum sumringah penuh keikhlasan selalu menghias bibir tipis nya yang indah.

“Selamat Pagi Pak!” “Selamat Pagi Bu!” “Adeeekk...Ayo lariii!” atau “Ayo Bu semangat Larinya...” katanya setiap berpapasan dengan orang saat ia mengelilingi jogging track yang ada
di dekat kompleks kampusnya.

Sejenak ia berhenti di padang rumput di luar jogging track yang tepat berada di belakang pagar kampusnya itu. Jarang ada orang yang kesana. Hanya dia dan seorang ibu-ibu yang menggendong bayi mungil erat dalam pelukannya yang selalu singgah ke tempat itu setiap pagi.

“Selalu Kau berikan kehangatan ini setiap pagi. Segala puji bagi Mu Ya Allah atas segala nikmat Mu.” Katanya pelan sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan basmallah.

“Tapat satu bulan enambelas hari” desahnya sambil tersenyum.

“Aku pasti bisa.” Katanya begitu semangat.

Beberapa waktu yang lalu ia sudah bertekad untuk hidup mandiri tanpa meminta uang bulanan sama orang tuanya lagi. Walau ia tahu akan ada kesulitan-kesulitan yang akan ia temui. Bermodal keyakinan dan tekad yang kuat akhirnya ia putuskan untuk tidak menjadi beban orang tuanya lagi.

“Sofia, kamu yakin dengan keputusan kamu?” tanya Syifa, teman baik Sofia, yang mengetahui keadaannya saat itu.

“Iya Fa, InsyaAllah aku yakin!” katanya menyungging senyum terindahnya.

“Baiklah kalau begitu, kalau kamu kesulitan jangan segan-segan yah bilang sama aku. InsyaAllah aku akan berusaha bantu!” kata Syifa.

“Iya Fa, Makasih yaa!” kembali ia melontar senyum menawannya.

“Eeemm.. tapi kenapa sih Sof, kamu bisa bertekad sekuat ini?” tanya Syifa penasaran.

Suasana kamar Sofia yang berukuran 3x3 meter itu menjadi hening. Syifa masih menunggu dengan sabar jawaban dari sahabatnya itu.

“Kamu tahu Fa, beban terberat yang menimpa pundak ku adalah ketika aku masih menengadahkan tangan meminta kiriman pada kedua orang tua ku.” Katanya mulai bersuara. Syifa masih terdiam menyimak setiap perkataan yang dikatakan Sofia.

“Orang tua ku sudah semakin renta. Kemarin waktu pulang liburan, ku lihat mereka semakin keriput. Namun mereka masih tetap semangat mencari nafkah, pagi-pagi sekali sudah pergi ke ladang dan pulangnya menjelang magrib.”

“Hati ku terhenyak. Mereka yang sudah tua, tenaga pun tinggal separo, namun mereka masih bisa bekerja keras.”

“Saat itulah terasa beban berton-ton menimpa pundak ku.” Air mata bening menetes lembut di wajah bersih Sofia.

“Aku berpikir, kenapa aku yang punya tenaga sekuat baja seperti ini tidak mampu menghidupi diri ku sendiri. Begitu teganya aku membebani mereka yang sudah renta, sedang aku hanya berleha-leha saja, kuliah gratisan dari mereka. Padahal aku ini sudah cukup dewasa untuk dapat menghidupi diri sendiri.” Lanjutnya menghela nafas panjang.

“Bertahun-tahun mereka menafkahi ku penuh kesabaran tanpa pamrih. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Kini saatnya aku menghidupi diri ku sendiri dan membahagiakan mereka.”

Suasana kembali hening, sumur air mata bening masih terus mengalir dari sudut mata Sofia. Bukan karena sedih tidak mendapat uang dari orang tuanya, namun ia letih menahan beban di pundaknya atas ketidakmampuannya selama ini meringankan beban orang tuanya.

Syifa, yang sejatinya anak orang berada pun merasa terhenyak hingga meneteskan air mata. Ia terharu dengan apa yang dilakukan temannya itu. Selama ini ia selalu berfoya-foya atas uang dari orang tuanya tanpa memikirkan betapa sulitnya mereka mencari uang untuknya.

“Makanya sejak bulan lalu aku meminta pada ayahdan ibu ku untuk tidak mengirim uang lagi untuk ku.” Lanjutnya memecah keheningan.

“Waktu aku bilang untuk tidak mengirim uang lagi, ada kelegaan yang ku tangkap dari tanggapan ayah dan ibu. Mereka bertanya dari mana aku dapat uang untuk hidup di ibukota dan untuk biaya
kuliah. Aku hanya bisa menjawab meyakinkan mereka, bahwa aku kuliah sambil kerja sambilan, dan ku katakan bahwa penghasilan ku itu bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah ku.”

“Saat itu ayah lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan, Ayah hanya berkata ‘Ya sudah kalau begitu, nanti kalau kamu kehabisan uang bilang sama Ayah’. Kata yang singkat tapi dalam sekali merasuk ke lubuk hati ku.”

“Dan sekarang aku bisa menghidupi diri ku sendiri Fa. Rasanya lega sekali, beban terberat dalam hidup ku sudah terlepas.” Binar matanya menghapus air mata yang sedari tadi terus mengalir itu.

“Kamu yakin bisa bertahan Sof?” tanya Syifa sedikit ragu.

“Syifaaa. Jauh sebelum kita lahir Allah telah menyiapkan rezeki untuk masing-masing hamba-Nya. Dari yang ku ketahui, rezeki itu ada tiga jenis. Yang pertama, rezeki yang di jamin. Yang kedua, rezeki yang di janjikan. Dan yang ketiga, rezeki yang di gantung.”

“Allah sudah menjamin rezeki kita seperti kebutuhan kita atas makan, minum, itu sudah Allah jamin untuk setiap umat-Nya. Allah juga berjanji memberi rezeki bagi umat-Nya, juga sudah menyiapkan rezeki yang masih Dia gantungkan entah diman. Nah tugas kita hanya berusaha dan terus berusaha untuk menjemput semua rezeki-rezeki itu.”

“Aku senang menjalani keseharian ku, walau kejar-kejaran makan dan menahan lapar. Yang terpenting bagi ku sekarang adalah aku bisa mengangkat beban berat di pundak ayah dan ibu, itu saj sudah sangat membuat ku lega.” Katanya tersenyum memandangi sahabatnya yang tertunduk diam.
Perlahan Syifa mengangkat mukanya dan tersenyum.

“Baiklah Sof, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tahu orang tua ku berkecukupan tapi aku juga tahu mereka bekerja begitu keras untuk bisa begitu.” Kata Syifa penuh antusias.

“Mulai bulan depan aku juga akan mandiri.” Kata Syifa yakin.

“Tapi bantu aku cari kerja sampingan kaya kamu ya Sof..hehehe” lanjut Syifa dengan nada memohon.

“Kalau kamu seyakin itu, aku akan membantu mu Fa. Dengan senang hati.” Katanya lembut dengan senyum tipis nan indah andalannya.








.

Hanya Tuhan Yang Tahu

Asa ku mulai goyah
Menerawang di awang-awang berharap disanalah yang ku cari
Keputusan yang berbelat-belit pun menjadikan pikiran kian membelit
Terima sajakah?
Atau berontak pada mereka?

Ku tanyakan lagi pada diriku
Takdir kah ini?
Atau aku saja yang terlalu lemah?
Hingga begitu cepat menyimpulkan itu takdir

Untuk kesekian kalinya ku ungkapkan menunggu itu menyebalkan
Tapi adakah mereka mendengar?
Ku tahu hanya Aku dan Tuhan ku yang mendengar keluh ku
Hingga ku sadari sia-sia saja teriakan ku

Salahkah mereka atas nasib ku?
Atau akulah yang terlampau takut berpikiran lebih jauh untuk masa depan ku
Mereka kah yang merampas kebahagian ku?
Atau aku yang terlalu sempit menetapkan standar kebahagian ku sendiri

Benarkah mereka penyebab kesulitan ku?
Atau aku yang begitu takut menyadari keegoan ku

Semua terserah pada ku dan keputusan Tuhan ku
Bagaimana aku merencanakan hidup ku
Dan apa keputusan Tuhan atas rencana ku
Hanya Dia Yang Maha Tahu.

Ada Apa Dengan Hujan?

Hari ini saya pergi Ngajar Les Private dengan sepeda. Tempatnya cukup jauh dengan kediaman saya. Jika menggunakan jasa angkutan umum (Alias Angkot) harus dua kali naik angkot. Namun karena beberapa pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan sepeda saja. Jauh banget? | Eeemm.. Lumayan siih, tapi di nikmati saja.. ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

Namun bukan jauh atau dekatnya tempat saya mengajar yang akan saya bahas kali ini. Sesuai dengan judul artikel ini, HUJAN. Ada apa sih dengan hujan?
Tadi saat saya pulang ngajar, baru sekitar dua menit keluar dari rumah murid saya, hujan turun. Pertama sih masih gerimis kecil-kecil saja. Saya perhatikan sekeliling sudah mulai berlarian, yang menggunakan sepeda motor mulai menaikkan kecepatannya. Sepertinya saya sendiri yang santai seperti tidak terjadai apa-apa..hehehe
Sampai tiba di jalan raya pun, saya melihat hampir semua motor berhenti untuk berteduh. Entah itu di depan minimarket, depan toko, atau bahakan ada yang numpang berteduh di tempat pedagang kaki lima.

Ada apa sih dengan Hujan?

"Hujan itu adalah rahmat" itulah kata-kata dari Ustad Yusuf Mansur yang selalu terngiang di benak saya ketika hujan turun.

Hujan itu sama halnya dengan sinar Matahari, cahaya Bulan, juga Gemerlap Bintang-Bintang kecil di malam hari. Mereka semua adalah rahmat dari Allah yang Maha Indah.

Ketika hujan turun Allah, malah memberikan kesempatan yang luar biasa pada umatnya. Ketika hujan turun, itu merupakan waktu di ijabah do'a kita oleh Allah yang Maha Rahman.
Lalu kenapa setiap hujan turun malah berteduh ya. Sepertinya tidak adil memperlakukan hujan. Dengan cahaya matahari, cahaya Bulan, kita bersahabat, kenapa dengah hujan malah menghindar bahkan ada yang mengutuk atau mengeluh dengan hujan.

Sering denger kan ada yang bilang,

"Duh, kok hujan sih. Padahal mau pergi, ga jadi deh!"

Atau

"Hujan, reda donk. Mau ke kampus nih!"

Atau

"Ah males deh kesana abisnya hujannya gede banget!"

Dan sebagainya, dan sebagainya.

Seolah hujan adalah penghalang dari segala aktivitas ya. Ah tapi itu sih kata orang dewasa saja. Coba kalau anak-anak, mereka malah jingkrak-jingkrak kegirangan karena hujan turun. Malah ada yang bermain-main di bawah lebatnya hujan.

Duh, jadi teringat waktu kecil dulu. *Upss,,ketauan suka main hujan-hujanan..ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

"Jangan hujan-hujanan nanti sakit" ----> #Sugesti*

"Berteduh dulu nanti kena Flu" ----> #Sugesti*

Ada apa dengan hujan?

Sebenarnya tidak ada pengaruh apa-apa dengan hujan, hanya sugesti kita saja yang terlalu mengakar jika kena hujan maka sakit, atau respon negatif lain terhadap hujan.
Padahal hujan itu adalah rahmat.
Asiik lagi..

Coba deh, ketika hujan turun Ga usah berteduh. Tengadahkan muka ke atas (telapak tangan juga boleh ikutan di buka) rasakan pakai hati, inget ya pakai hati. Rasakan benar-benar setiap tetesan air yang mengenai muka dan tangan kita. Pejamkan mata sejenak, Rasakan air yang menetes di pipi kita, di hidung kita, di pelupuk mata, di kening, di telapak tangan kita dan semua bagian tubuh kita yang terkena tetesan lembut air hujan. Rasanya nikmat banget karunia Allah.
Eiiittss, tapi yang sedang berkendaraan terutama sepeda motor tidak di anjurkan melakukan ini saat melaju yah,,,hehehehe

Basah kuyup karena hujan itu enak. Tentunya jika di nikmati dan di syukuri. Di jamin ga bakalan sakit deh. Jika memang masih takut sakit nanti sampai di rumah mandi. Inget Mines ketemu Mines Hasilnya Plus. Jadi air ketemu air nanti jadinya hangat. Beneran deh, saya sudah praktek. ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

Ketika hujan turun ga usah buru-buru mengeluh, mengutuk dan tanggapan negatif lainnya dikeluarkan. Tapi coba deh hitung satu-satu tetesan air yang ada di hadapan kita. Kehitung Ga? | Saya sih ga kehitung..hehehe

Nah, analogikan tetesan air hujan itu dengan nikmat Allah yang kita terima. Sama. Ga kehitung saking banyaknya. Bahkan yang asiknya lagi hujan itu sendiri adalah rahmat dari-Nya yang sangat mengasyikkan jika dinikmati.

Sekarang Huja? | Hajar saja. Lewati saja, ga usah pakai payung. Yah kecuali mau bertamu dengan orang, mau ke kampus, mau ke kantor terus ga bawa baju ganti ya silahkan saja pakai payung. Hanya saja ga usah mengeluh, nikmati. Hasilnya menyenangkan loh.

Saya sering hujan-hujanan, basah kuyup. Sampai-sampai setiap orang yang sedang berteduh meneriaki saya untuk berteduh. Saya lempar senyum terindah saya saja untuk mereka sambil dalam hati berucap "Terimakasih, Sudah perhatian sama saya walau tidak kenal dengan saya".
Woow, luar biasa. Mensyukuri hujan, menikmati hujan, memberikan senyum ikhlas pada orang, rasanya sesuatu banget..hehehe

Keesokan harinya, apa yang terjadi sama saya? | Sakit kah? | Terkena Flu kah? |

Alhamdulillah saya sehat luar biasa. Segar, tidak ada sisa-sisa hujan kemarin. Yang ada hanyalah kenikmatan hujan yang saya rasakan masih membekas di hati dan pikiran saya.
Dan tak lupa ketika hujan saya selalu memanjatkan do'a atas impian saya kepa Yang Maha Indah yang telah menciptakan hujan seindah dan semerdu yang saya rasakan.
Jadikan hujan sebagai teman, bukan penghalang.

Yuk, Bersahabat dengan hujan.
Dengarkan bunyi rintik-rintiknya yang merdu. Dengarkan dengan hati.
Rasakan tetes demi tetes air hujan yang menyapu muka dan seluruh tubuh kita. Rasakan dengan hati.


Selamat Menjadi sahabat baru bagi hujan.. ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ


Punya pengalaman menarik bersama Hujan? | Boleh dong di share komen disini,, Thx b4 ^__^


^_____^

By: SS









.
Diberdayakan oleh Blogger.

.

.

.

.

.